Pernahkah Anda mendengar tentang terapi HBOT (Hyperbaric Oxygen Therapy)? Saya awalnya skeptis, namun setelah mencobanya sendiri, hasilnya benar-benar di luar dugaan—atau mungkin hanya sugesti? Di tengah maraknya klaim bahwa HBOT bisa menyembuhkan luka kronis, meningkatkan energi, hingga meremajakan sel, saya memutuskan untuk menjajal terapi oksigen bertekanan tinggi ini. Bagaimana pengalaman nyatanya? Simak cerita lengkap saya!
HBOT adalah terapi medis di mana pasien menghirup oksigen murni (100%) dalam ruang bertekanan tinggi, biasanya 1,5–3 kali tekanan atmosfer normal. Proses ini membantu oksigen larut lebih banyak ke dalam aliran darah dan jaringan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, mengurangi peradangan, bahkan merangsang regenerasi sel. Terapi ini umumnya digunakan untuk pasien luka bakar, diabetes, stroke, atau atlet pemulihan cedera.
Saya memutuskan mencoba HBOT setelah membaca testimoni tentang manfaatnya untuk kelelahan kronis dan konsentrasi. Sebagai freelancer yang sering begadang, saya penasaran apakah HBOT benar-benar bisa mengembalikan energi secepat yang diklaim. Apalagi, beberapa selebriti dan atlet profesional mengaku rutin menjalani terapi ini.
Sebelum sesi dimulai, saya menjalani konsultasi dengan terapis untuk memastikan tidak ada kontraindikasi seperti asma atau claustrophobia. Saya juga dilarang membawa barang elektronik atau bahan mudah terbakar ke dalam ruang HBOT. Setelah penjelasan singkat, saya masuk ke dalam ruang berbentuk tabung transparan yang mirip dengan pesawat ruang angkasa!
Begitu tekanan mulai naik, telinga saya terasa seperti saat naik pesawat—harapannya harus diseimbangkan dengan menelan atau menguap. Selama 60 menit, saya hanya berbaring sambil menghirup oksigen melalui masker. Suara mesin yang berdesis dan tekanan udara sempat membuat sedikit tidak nyaman, tapi lambat laun saya mulai rileks.
Usai terapi, hal pertama yang saya rasakan adalah kepala lebih ringan dan energi meningkat. Biasanya setelah kerja lembur, saya seperti zombie, tapi hari itu saya merasa segar. Apakah ini efek placebo atau benar-benar kerja HBOT? Saya belum yakin, tapi perubahan itu nyata.
Dalam 24–48 jam setelah terapi, saya memperhatikan beberapa perubahan: tidur lebih nyenyak, fokus lebih baik saat bekerja, dan nyeri punggung akibat duduk lama berkurang. Namun, efek ini perlahan memudar. Menurut terapis, hasil optimal biasanya terlihat setelah 5–10 sesi.
Sebagai orang yang rasional, saya bertanya-tanya: apakah manfaat HBOT ini ilmiah atau sekadar sugesti? Ternyata, riset menunjukkan HBOT memang meningkatkan oksigenasi jaringan dan mengurangi inflamasi (sumber: NIH). Tapi untuk kasus seperti kelelahan, efeknya bisa subjektif.
HBOT bukan solusi instan, tapi pengalaman saya membuktikan ia bisa memberi manfaat nyata, terutama untuk pemulihan energi dan peradangan. Jika Anda ingin mencoba, pastikan kliniknya terpercaya dan konsultasikan dulu dengan dokter. Untuk hasil maksimal, beberapa sesi mungkin diperlukan.
Bagaimana dengan Anda? Pernah mencoba HBOT atau masih ragu? Share pengalaman di kolom komentar! Jika tertarik, cari klinik HBOT bersertifikat di kota Anda dan bandingkan harganya. Siapa tahu, terapi ini bisa jadi investasi kesehatan yang worth it!( Anton, 48 tahun pasien HBOT Depok)
Keren dok
ReplyDeletePost a Comment